Berlatih nilai kejujuran

Semasa SD, aku juga menjalani pendidikan formal mda (madrasah diniyah awaliyah) alfurqan di matraman pada waktu sore hari. Ada satu pengalaman ketika menjalani pendidikan 4 tahun disitu yang mengajarkan nilai kejujuran. Saat itu umurku rentang 8 tahun.
Jadi, setiap selesai shalat ashar berjama’ah dan kegiatan pidato bergilir di madrasah, para ustadz dan ustadzah menyuruh para santri yang shalatnya ada bolong bolong untuk berbaris kedepan.
Dan ujian kejujuran pun dimulai.


Para santri yang shalatnya bolong bolong tahu hukuman yang akan didapatnya dan itu menyakitkan. Tapi mereka juga tahu, bohong itu dosa.
Dan kebanyakan santri cilik tersebut (termasuk saya) tidak berlama lama dalam kebimbangan tersebut. Anak-anak masih polos, langsung jujur. bohong itu dosa. Mereka yang merasa shalatnya ada bolongnya di hari itu langsung berdiri berbaris rapi.
Baris yang rapi. Jangan ada yang berbohong. Bohong itu apa?, tanya ustadzah.
‘Dosaaaaa’, teriak kami ramai-ramai.
Tidak shalat dosa gak?, tanyanya lagi.
‘dosaaaaa’, teriak kami kembali.
Antrian pun dimulai. Tiba giliranku.
‘Berapa kali?’, tanya ustadzah tersebut.
‘2 ustadzah’, jawabku.
‘mana kukunya? Rapatkan!’, tegasnya.
Aku pun langsung menjulurkan tangan kiriku dan menguncupkannya sehingga semua ujung jari bersatu sama rata.
*Plak*. Pukulan pertama. Menggunakan bagian belakang penghapus. Bagian kayu.
*plak*. Pukulan kedua.
Sakit?, tanyanya.
‘Sakit ustadzah’. Jawabku meringgis dengan bagian ujung jari yang memerah.
‘nah besok besok jangan lagi tinggal shalat. Hukuman didunia tidak ada apaapanya dibandingkan di neraka. Sekarang balik ke kelas’, celotehnya.
‘Iya ustadzah’, ujarku menuju ke kelas sambil sedikit melihat ke antrian. Ada yang tinggal 1 shalat, ada yang bahkan hingga 4. Duh sakitnya!

_______________________________

Kegiatan tersebut saya sadari sama sekali tidak melanggar ham ataupun kekerasan pada anak. Bahkan sangat melatih kejujuran dan mendisiplinkan si anak untuk wajib shalat 5 waktu karena jika ditinggalkan berdosa besar dan mendapatkan hukuman yang sangat pedih.
Meskipun pada akhirnya ada yang rajin shalat karena takut kena hukuman itu. Tapi setidaknya sudah mendisiplinkan si anak untuk shalat.
Para orang tua atau ibu kandung pasti tidak ada yang tega melakukan hal tersebut. Makanya antar anaknya ke madrasah biar dididik. Karena pasti ustadz/ustadzahnya tega πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜“ ….melakukannya demi mendisiplinkan dan menyalamatkan anak tersebut dari api neraka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s